Minggu, 18 Mei 2014

integrasi



Nama : wiwik astria
Nim : 1349040019
Kls : A


 “Integrasi Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Proses Pembelajaran dan Kesenjangan Penggunaan TIK di Indonesia”ICT dalam pendidikan memiliki peran yang sangat penting.  Di samping sebagai pendukung kinerja sistem pendidikan, ICT juga bermanfaat sebagai media pendidikan. Pendidikan ICT bagi anak usia dini telah membawa kita pada cara yang baru dalam mengembangkan teknologi pembelajaran.
Mengkaji pendidikan ICT pada anak usia dini ini memiliki banyak persepsi, diataranya, pemanfaatan ICT sebagai media belajar atau mengajarkan ICT pada mereka. Namun demikian, keduanya terkadang saling berhubungan walaupun banyak juga perbedaan dalam segi orientasi dan pemanfaatan.
A.    ICT DAN ANAK USIA DINI
Bagaimana cara pemberian  IT pada Anak Usia Dini?
Teknologi bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda, yang memiliki sisi positif dan negatif. Sehingga implementasinya pun akan berbeda pada setiap usia perkembangan anak.
Pada anak usia dini 0 – 8 tahun sesuai dengan konvensi anak dunia, serta 0 – 6 tahun menurut konsep pendidikan yang ada di Indonesia, maka banyak cara mengenalkan teknologi pada anak usia dini, yaitu :
1. Usia 0 – 2 tahun: Pada perkembangan anak usia ini, anak mulai belajar mendengar dan mengenal sekitarnya, dari rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan melalui gerakan, serta suara.  Kemudian anak mulai menirukan ketika mereka mulai belajar berbicara.  Pemberian IT pada usia anak demikian, dapat melalui multimedia dengan cara diputarkan lagu-lagu rohani atau lagu anak.  Mengenalkan warna juga dapat melalui multimedia dengan memutarkan film-film kartun anak, yang tentunya mendidikan. Mengapa? Karena film-film kartun saat ini pun memiliki unsur warna yang beragam, sehingga anak dapat mengenalnya walau tidak sekaligus, tetapi warna-warna yang dominan. Hal ini pun dapat membantu pembentukan karakter anak.
2. Usia 3 – 4 tahun: Pada usia ini, anak mulai menggunakan  kalimat yang hampir lengkap, hal ini dapat dilihat dari cara mereka menanyakan sesuatu hal. Menurut Piaget, cara anak mengajukan pertanyaan menunjukkan perkembangan kognitif seorang anak. Pada anak yang berasal dari latar belakang orang tua otoriter,  anak kurang belajar berbicara, ketimbang dalam keluarga yang demokratis, dimana anak bukan saja belajar “mendengar” tetapi juga “didengar”.   Oleh karenannya penting diberikan IT melalui multimedia, dengan cara seperti pada usia anak 0 – 2 tahun, tetapi cara pembelajarannya sedikit meningkat disesuaikan dengan usia anak yang telah dapat menerima rangsangan lebih banyak.  Misalnya mulai diajarkan melafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an, atau dikenalkan cerita-cerita Kitab Suci melalui film-film, tentu saja perlu pendampingan orang tua sehingga dapat terlihat sejauh mana anak mampu untuk belajar.  Semakin banyak kesempatan anak belajar untuk berbicara, dapat membantu anak menumbuhkan rasa percaya dirinya sehingga pada usia sekolah mereka dapat mengenalkan dan mengungkapkan dirinya secara lisan.
3. Usia 5 – 6 tahun: Pada usia ini, pengenalan dunia IT sudah lebih meningkat. Pengenalan dapat berupa pengenalan perangkat keras komputer (hardware) yang bisa dilihat dan dipegang langsung oleh anak, misalnya : CPU, Monitor, Mouse, Keyboard dan Printer.  Pengenalan perangkat keras ini juga dilengkapi dengan penjelasan fungsi dari masing-masing alat dengan cara langsung dipraktekkan (learning by doing).
4. Usia 7 – 8 tahun: pada usia ini, pengenalan dunia IT sudah masuh pada tingkat program interaktif, dimana anak sudah bisa berinteraksi dengan program aplikasi pembelajaran.
B.     ICT sebagai Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.Pemanfaatn ICT sebagai media pembelajaran merupakan hal yang baru dalam pendidikan. Hal tersebut tentu diiringi oleh perkembangan zaman saat ini. Dikeluarkannya komputer mini (netbook) oleh pabrikan komputer di dunia yang niat awalnya didistribusikan untuk kunsumsi pelajar, merupakan salah satu jalan bagi dunia pendidikan dalam memanfaatkan ICT tersebut. Walaupun saat ini pemanfaatnya telah berkembang. Clark mengklasifikasinnya media dalam pembelajaran menjadi 5 perspektif, yaitu:
1. Media sebagai teknologi dan mesin
2. Media sebagai tutor
3. Media sebagai alat sosialisasi
4. Media sebagai motivator dalam belajar
5. Media sebagai alat mental untuk berpikir dan memecahkan masalah
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melaluisaluran atau media tertentu penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang dikomunikasikan adalah sebuah informasi.
a.       Jenis dan Karakteristik Media
Sedangkan untuk media sendiri memiliki taksonominya yaitu:
Ciri utama media dibagi menjadi 3 unsur pokok, yaitu, suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga, yaitu gambar, garis, dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Di samping itu Bretz juga membedakan antara media siar (telecomunikation) dan media rekam (recording) sehingga terdapat 8 klasifikasi, yaitu : 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semi gerak, 4) media visual gerak, 5)media visual diam, 6)media semi gerak, 7) media audio, 8) media cetak.
Menurut Sadiman karakteristik media terdiri dari:
·         Media Grafis
Media grafis termasuk media visual yang berkaitan dengan indra penglihatan. Pesan yang disampaikan dituangkan k dalam sibol-simbol komunikasi visual. Diantara media grafis adalah gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta, papan buletin, dll,
·         Media Audio
Media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Jenis-jenis media audio diatnaranya adalah radio, alat perekam pita magnetik, lab. Bahasa,
·         Media Proyeksi Diam
Media proyeksi diam memiliki persamaan dengan media grafik dalam arti penyajian rangsangan-rangsangan penyajian visual. Perbedaanya adalah pada media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan, pada media proyeksi pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihatoleh sasaran. Diantara median proyeksi diam adalah film bingkai, film rangkai, media transparansi, proyektor, mikrofis, film, tv, video.
Menurut Munada karakteristik media terdiri dari 4 macam yaitu:
·         Media Audio
Pembahasan tentang proses komunikasi pembelajaran dengan menggunakan media audio tidak lepas dari pembahasan aspek pendengaran. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan dari pada untuk melakukan komunikasi lainnya. Pada tahun 1926 ditemukan bahwa 70% dari waktu bangun kita dipakai untuk berkomunikasi, yaitu membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Bila waktu yang digunakan untuk beraktivitas tersebut di bagi-bagi, hasilnya menunjukkkan bahwa 42% dipakai untuk mendengarkan, 32% untuk bercakap-cakap, 15% untuk membaca, dan 11% untuk menulis.
Mendengarkan sesungguhnya suatu proses rumit yang melibatkan empat unsur: (1) medengar, (2) memperhatikan, (3) memahami, dan (4) mengingat. Jadi definisi mendengarkan adalah” Proses selektif untuk memperhatikan, mendengar, memahami, dan mengingat simbol-simbol pendengaran”.
1. Medengar. Mendengar merupakan proses fisiologis otomatis penerimaan ransangan pendengaran. Dalam tahap inilah gangguan fisik pada alat pendengaran seseorang dapat menimbulkan kesulitan dalam proses mendengarkan. Mendengar merupakan proses dimana gelombang suara masuk melalui telinga di bagian tengah telinga dan menimbulkan getaran-getaran yang kemudian merangsang impuls-impuls saraf sampai ke otak.
2. Perhatian. Memperhatikan rangsangan di lingkungan kita berarti memusatkan kesadaran kita pada rangsangan khusus tertentu. Indra penerima secara konstan dihujani sekian banyak rangsangan sehingga kita tidak mungkin menanggapi semuanya sekaligus pada saat yang sama. Sel khusus dalam sistem syaraf kita (saraf penghambat) berfungsi membuang sejumlah sensasi yang datang, menjauhkan sensasi-sensasi tersebut dari kesadaran kita. Namun demikian, meskipun memiliki syaraf penghambat, kita masih sering kali tidak mampu memusatkan perhatian pada satu peristiwa tunggal lebih dari beberapa detik setiap kali, karena rangsangan yang lain biasanya berlomba merebut perhatian kita. Fenomena ini -kita sering memperhatikan rangsangan tertentu sambil membuang rangsangan yang lainnya- disebut perhatian selektif.
3. Memahami. Unsur ini adalah yang paling rumit dalam mendengarkan. Memahami biasanya diartikan sebagai proses pemberian makna pada kata yang kita dengar, yang sesuai dengan makna yang di maksudkan oleh si pengirim pesan. Menapsirkan suatu pesan adalah memberi makna secara harfiah pada pesan itu. Ini berdasarkan pada pemahaman atas gramatika bahasa, pengenalan dan pemahaman atas maksud sumber (sinis, bergurau, serius), pemahaman atau implikasi situasi (mencakup lingkungan fisik, hubungan dengan orang-orang yang lainnya, dan iklim perjumpaan).
4. Mengingat. Kebanyakan tes mendengarkan menguji berapa banyak kita dapat mengingat apa yang telah kita dengar dan kita pahami. Mengingat adalah menyimpan informasi untuk diperoleh kembali.
b.      Karakteristik Media Audio
Ciri utama dari media audio dituangkan dalam lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Adapun kelebihannya adalah sebagai berikut.
1. Mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dan memungkinkan menjangkau sasaran yang luas.
2. mampu mengembangkan daya imajinasi pendengar.
3. mampu memusatkan perhatian anak pada penggunaan kata-kata, bunyi, dan arti dari kata/bunyi tersebut.
4. dll.
Sedangkan kekurangan media audio adalah sifat komunikasinya hanya satu arah. Memiliki kekuarang dari sudut perolehan informasi dalam belajar.
·         Media Visual
Media visual adalah media yang melibatkan indra penglihatan. Terdapat dua jenis pesan yang dimuat dalam media visual, yakni pesan verbal dan nonverbal. Pesan verbal-visual terdiri atas kata-kata dalam bentuk tulisan dan pesan non verbal-visual adalah pesan yang dituangkan ke dalam simbol-simbol nonverbal-visual. Secara garis besar unsur-unsur yang terdapat pada media visual terdiri atas garis, bentuk, warna, dan tekstur.
Pentingnya pesan verbal dalam pembelajaran yaitu untuk melakukan pengeriman pesan melalui bahasa verbal untuk menghasilkan makna. Kata-kata merupakan unsur dari bahasa yang dapat digunakan sebagai simbol verbal. ”Kata” hanya akan mempunyai ”makna” setelah ia diasosiasikan dengan ”refrensi/rujukan”.
·         Karakteristik Media Visual
Pesan visual dapat dituangkan dalam bentuk: gambar, grafik,  diagram, bagan, peta. Sedangkan penyaluranpesan visual verbal-nonverbal-grafis dapat dilakukan melalui: buku dan modul, komik, majalah dan jurnal, poster, papan visual. Di samping itu pesan visual juga dapat berupa benda asli atau tiruan (miniatur)
·         Media Audio Visual
Media audiovisual dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama, dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit, dinamakan media audiovisual murni, seperti film gerak, video, televisi. Jenis kedua adalah media audio visual tidak murni yakni apa yang kita kenal dengan slide, OHP dan peralatan visual lainnya bila diberi unsur suara dari rekaman kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam satu waktu atau satu proses pembelajaran.
Salah satu media audiovisual adalah film. Dilihat dari indera yang terlibat, film adalah alat komunikasi yang sangat membantu proses pembelajaran efektif. Apa yang terpandang oleh mata dan terdengar oleh telinga, lebih cepat dan lebih mudah diingat dari pada apa yang hanya dilihat atau di dengar saja. Manfaat dan karakteristik lainnya dari media film dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran, diataranya.
1. Mengatasi keterbetasan jarak dan waktu
2. Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat.
3. Dapat diulang, untuk memperkuat pengingatan.
4. Mengembangkan pikiran dan pendapat.
c.       Multimedia
Media dalam konteks pembelajaran merupakan bahasa, maka multimedia dalam konteks tersebut adalah multibahasa, yakni ada bahasa yang mudah dipahami oleh indra pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan lain sebagainya; atau dalam bahasa lain multimedia pembelajaran adalah media yang mampu melibatkan banyak indera dalam satu organ tubuh selama proses pembelajaran berlangsung.
·         Pemanfaatan Multimedia Berbasis Komputer dalam Pembelajaran
Bentuk dari multimedia dalam pembelajaran antara lain :
1. Multimedia Presentasi
2. Program Multimedia Interaktif
3. Sarana Simulasi
4. Video Pelajaran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar